Showing posts with label Bhs. Jawa. Show all posts
Showing posts with label Bhs. Jawa. Show all posts

Selamatkan Bahasa Jawa



Melihat artikel diatas, terusiklah penulis juga mengingatkan khususnya anak-anak muda jawa "Jong Java" dan keturunannya termasuk penulis sendiri untuk bisa berbahasa jawa dengan baik dan benar, sesuai dengan akhir kata dari si penulis artikel
Dengan perkataan lain, bahasa Jawa yang berjati diri sebagai bahasa ibu bagi sebagian terbesar warga masyarakat Yogyakarta dan sekelilingnya, sepertinya justru dibiarkan makin merana. Saya harus menegaskan, sama sekali tidaklah cukup pemertahanan bahasa Jawa hanya berhenti pada pemakaian aksara Jawa yang jelas-jelas berdimensi ortografis itu.
Maka pertanyaan mendasarnya lalu, sungguhkah kita yang "masih Jawa" ini rela membiarkan bahasa Jawa mati di lumbung sendiri? Sungguhkah tidak ada upaya superkonkret untuk membalikkan arus kepunahan bahasa Jawa? Mohon dengan segala hormat, sinyalemen kebahasajawaan yang sangat mengkhawatirkan ini benar-benar disikapi dan direfleksikan dalam-dalam! Ayo segera selamatkan bahasa Jawa!
R Kunjana Rahardi Pakar Bahasa, Konsultan Bahasa Media di Jakarta Dosen Akademi Sekretari dan Manajemen Marsudirini Santa Maria, Yogyakarta

Tembang Macapat


Tembang Dandanggula

Jroning nampa pepesthen puniki
Wajibira mung nuhoni dharma
Apan wus dadi kodrate
Lelaku jro lumaku Titi tata tatag ing batin
Nggayuh yuning bebrayan lahir trusing kalbu
Mula lumaku makarya
Antepira sepi pamrih lahir bathin
Makarya tan akarya

Sakehing kan dumadi makardi
Lir Hyang Widhi kan tansah makarya
Nguribi jagad tan leren
Surya, candra lan bayu Bhumi tirta kalawan agni
Paparing panguripan
Mring pamrih wus mungkur
Anane nuhoni dharma
Iku dadya "sastra cetha" tanpa tulis
Nulat lakuning alam


Arti:
Didalam kita menjalani hidup ini,
sesuai dengan kodratnya kita hanya nuhoni dharma,
melaksanakan kewajiban sesuai dengan kodrat kita sebagai manusia
karena itu dalam setiap perbuatan kita harus menyadari
untuk bekerja dan bekerja tanpa pamrih,
bisa diupamakan makaryo tan akaryo
artinya kita berbuat sesuatu
tetapi kita tidak merasa membuat sesuatu yang kita harapkan hasilnya,
orang jawa mengatakan sepi pamrih rame gawe.

Semua yang ada ini bekerja, Bahkan Tuhan pun bekerja
Menghidupi dunia ini tanpa henti
Matahari, bulan,Angin, Bumi, air dan api
semua bekerja demi kelangsungan hidup, dan tanpa pamrih.
Dasarnya hanyalah merasa wajib.
Alam adalah "ilmunyata",
Kita wajib meniru dharmanya